Mengenal Sumbu Filosofis Kota Yogya

Ketika kita berkunjung ke Kota Yogya, tempat-tempat manakah yang kerap kita kunjungi untuk berwisata? Sebagian besar mungkin akan menjawab daya tarik khas dan “klasik” Yogya, seperti Keraton Yogyakarta, Taman Sari, Jalan Malioboro, produsen dan penjual Bakpia dan Gudeg, dan daya tarik sekitar Yogya, seperti Candi Prambanan dan candi-candi lainnya, Pantai Parangtritis, dan Goa Pindul. Bagi generasi milenial, dan karena perkembangan teknologi digital dewasa ini, pilihannya semakin beragam, seperti Merapi Park, The Lost World Castle, Tebing Breksi, Lava Bantal, Taman Pelangi, Edupark Yogya, Hutan Pinus dan Kebun Buah Mangunan, Jurang Tembelan, Kalibiru, dan banyak lagi.

 

Mungkin belum banyak yang mengetahui bahwa Kota Yogya memiliki garis imajiner yang membentang di pusat kota dari selatan ke utara. Garis imajiner ini disebut Sumbu Filosofis Yogya dan melambangkan filosofi yang diyakini warga Yogya terkait keselarasan dan keseimbangan hubungan manusia dengan Sang Pencipta, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam. Selain itu, sumbu ini juga melambangkan perjalanan hidup manusia. Sepanjang jalur sumbu tersebut terdapat beberapa titik yang melambangkan fase kehidupan manusia, mulai dari Panggung Krapyak di selatan Alun-alun Kidul Yogya yang melambangkan fase kelahiran manusia; Keraton Yogyakarta sebagai fase pertumbuhan manusia muda; Alun-alun Lor sebagai fase masuknya manusia muda ke manusia dewasa; Jalan Malioboro sebagai fase kejayaan manusia dewasa, misal dalam hal kehidupan pribadi dan karir; Jalan Margopuro sebagai fase masuknya manusia dewasa ke masa tua; dan Tugu Pal Putih, yang melambangkan batu nisan, sebagai fase meninggalnya manusia dari kehidupan duniawi dan masuk ke alam “kehidupan” berikutnya. Sebetulnya, ada dua elemen alam yang juga merupakan bagian dari sumbu ini, yaitu Laut Selatan yang melambangkan air sebagai sumber kehidupan manusia dan Gunung Merapi di utara Yogya sebagai tempat terakhir dan tertinggi jiwa manusia akan bersemayam, yaitu nirwana tau surga.

Gambar 1 Jalan Malioboro yang melambangkan puncak kejayaan dalam hidup manusia (foto: Teguh Amor Patria, 2019)

Gambar 2 Tugu Pal Putih sebagai salah simbol penutup fase kehidupan duniawi (foto: Teguh Amor Patria, 2019)

Menurut seorang responden yang wawancarai oleh penulis pada bulan Mei 2019 untuk sebuah penelitian, Sumbu Filosofi Yogya merupakan kebanggaan warga Yogya dan sudah dipertimbangkan sejak 2017 oleh UNESCO untuk ditetapkan sebagai Warisan Budaya Non-Benda (intangible cultural heritage) Dunia. Pertimbangan utamanya adalah nilai keunikan, yaitu Yogya merupakan satu-satunya kota di dunia yang memiliki garis imajiner yang menyimbolkan fase perjalanan hidup manusia, dan nilai universal, yaitu filosofi tersebut berlaku untuk semua manusia terlepas dari latar belakang etnis dan ras, sosio-ekonomi, sosio-budaya, dan lain sebagainya. Apabila Sumbu Filosofis Yogya berhasil masuk dalam daftar Warisan Budaya Dunia, maka akan menambah jumlah warisan dunia di Indonesia yang saat ini berjumlah sembilan situs.

 

Lalu apakah konsekuensi dan dampak apabila Sumbu Filosofis Yogya masuk ke dalam daftar Warisan Dunia? Beberapa di antaranya yaitu, selain kita akan memiliki kewajiban untuk menjaga dan mempertahankan kelestarian situs-situs yang berkaitan dengan sumbu tersebut, Sumbu Filosofis Yogya akan menarik banyak pengunjung, seperti yang biasa dialami oleh tempat-tempat yang masuk dalam Daftar Warisan Dunia, contohnya Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Dengan kata lain, Sumbu Filosofis Yogya dapat menjadi daya tarik bagi pengunjung di Kota Yogya, walaupun perlu diingat juga bahwa tujuan utama penobatan Sumbu Filosofis Yogya tidak untuk menjadikannya sebagai daya tarik wisata budaya tetapi untuk tujuan pelestarian warisan budaya itu sendiri.

 

Lalu apa yang bisa kita lakukan sementara ini untuk mengenal Sumbu Filosofis Yogya? Pemerintah Yogya sudah membangun beberapa fasilitas, di antaranya marka (penanda sekaligus berfungsi sebagai papan informasi) di beberapa titik dalam jalur itu. Bahkan di dekat Tugu Pal Putih dibangun miniatur jalur dan kawasan sekitarnya, lengkap dengan situs-situs utama agar memudahkan pengunjung mengenal kawasan tersebut. Pengunjung dapat mulai menelusuri sumbu dari titik mana pun di sepanjang jalur, baik dengan berjalan kaki atau bersepeda. Untuk mengunjungi Pantai Laut Selatan dan Gunung Merapi, pengunjung tentunya dapat menggunakan kendaraan roda dua atau empat. Bagi mahasiswa, akademisi, atau praktisi di bidang pariwisata, Sumbu Filosofis Yogya, sebagai contoh, bisa menjadi peluang studi pemahaman, perencanaan, dan pengembangan pariwisata warisan budaya (cultural heritage tourism). Untuk membuat sumbu ini menarik, fasilitas interpretasi personal, seperti pemandu, dan non-personal, seperti brosur, terkait Sumbu Filosofos Yogya perlu dikembangkan untuk meningkatkan kualitas pengalaman pengunjung serta meningkatkan pemahaman mereka akan filosofi Sumbu Yogya dan pentingnya pelestarian warisan budaya.

Gambar 3 Marka atau penanda situs di salah satu titik Sumbu Filosofis Yogya (foto: Teguh Amor Patria, 2019)

Gambar 4 Miniatur jalur Sumbu Filosofis dan situs-situsnya di dekat Tugu Pal Putih (foto: Teguh Amor Patria, 2019)

Tertarik? Silakan berkunjung ke Yogyakarta dan telusuri Sumbu Filosofis untuk memperkaya pengalaman budayamu di Kota Pelajar ini.

Teguh Amor Patria