Akhir-akhir ini kita sering mengikuti berita, terutama secara online, tentang overtourism di beberapa negara di Eropa, seperti Belanda, Perancis, dan Spanyol. Apa yang dimaksud dengan ‘overtourism’?

 

Overtourism adalah suatu kondisi di mana jumlah wisatawan di sebuah destinasi wisata dianggap terlalu tinggi oleh warga setempat sehingga mulai dirasa mengganggu. Agak sulit memang mengukur ‘terlalu tinggi’, karena tidak ada patokan yang berlaku secara universal. Pertama, jumlah warga setiap kota berbeda. Kedua, ‘terlalu tinggi’ dapat menjadi konsep yang relatif – jumlah wisatawan yang terlalu tinggi belum tentu menjadi semacam ancaman bagi warga di suatu destinasi tertentu. Sebaliknya, jumlah wisatawan yang tidak tinggi pun sebetulnya bisa dianggap tidak nyaman oleh warga di destinasi tertentu. Akan tetapi, untuk sementara mungkin dapat diasumsikan bahwa overtourism secara umum terjadi apabila jumlah wisatawan lebih banyak dari jumlah warga di suatu destinasi, dan warga tersebut mulai merasakan ketidaknyamanan karena jumlah dan perilaku wisatawan, seperti kepadatan di area tertentu dan perusakan fasilitas umum (vandalism). Salah satu faktor yang dianggap ‘memperparah’ dampak yang dirasakan oleh warga di kota-kota di atas adalah jumlahnya yang jauh lebih kecil dibanding jumlah wisatawan, sebagai contoh, Amsterdam memiliki jumlah warga sekitar 850 ribu, Paris 2,2 juta, dan Barcelona 5,5 juta. Dengan jumlah wisatawan sebesar 19 juta untuk Amsterdam, 40 juta untuk Paris, dan 32 juta untuk Barcelona, overtourism memang lebih terasa di kota-kota tersebut.

Foto 1 Salah satu sudut Barcelona, Spanyol. Barcelona adalah salah satu kota di Eropa yang mengalami overtourism.

(foto: Teguh Amor Patria, 2005)

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana kita mendefinisikan overtourism? Apakah harus selalu berdasarkan kuantitas (jumlah wisatawan lebih banyak dari jumlah warga setempat)? Atau juga perlu untuk mempertimbangkan kualitas (dampak psikis dari jumlah wisatawan yang lebih banyak dari jumlah warga setempat)? Doxey (1975) mengembangkan indeks tingkat ketergangguan warga yang tinggal di destinasi wisata (mulai dari Euphoria, Apathy, Irritation, hingga Antagonism), akan tetapi tidak menyertakan unsur kuantitas. Mungkin akan menarik untuk membahas atau melakukan penelitian terhadap definisi overtourism, yang melibatkan aspek kuantitas dan kualitas. Contohnya, berapa prosentase minimum perbandingan antara jumlah warga di destinasi wisata dan jumlah wisatawan di destinasi tersebut? Apakah prosentase tersebut berdampak secara psikologis (negatif) terhadap warga setempay? Dan apakah hal tersebut selalu dapat belaku secara umum?

 

Bacaan lebih lanjut : Overtourism: What is it, and how can we avoid it? https://www.responsibletravel.com/copy/what-is-overtourism