Muntok, Kota Tua dan Kota Seribu Kue

Pernah mendengar tentang Kota Muntok? Kota Muntok adalah salah satu kecamatan sekaligus Ibu Kota dari Kabupaten Bangka Barat Provinsi Bangka Belitung. Kota ini mungkin terdengar asing untuk beberapa orang, tetapi nyatanya Kota Muntok merupakan bagian dari sejarah kemerdekaan Indonesia. Kota Muntok turut ambil bagian pada masa penjajahan Indonesia oleh bangsa asing. Salah satu yang paling bersejarah adalah masa pengasingan para pemimpin negara yang dianggap “membahayakan” posisi Kolonial Belanda di masa agresi militer Belanda ke II. Adapun yang pernah diasingkan di Muntok adalah Ir. Soekarno sebagai Presiden pertama RI dan H. Agus Salim sebagai Menteri Luar Negeri RI pada tanggal 6 Februari 1949 tepatnya di Pasanggrahan Muntok (sekarang lebih dikenal dengan Wisma Ranggam). Selain kedua tokoh tersebut, 6 tokoh lain yang salah satunya adalah Moh. Hatta sebagai Wakil Presiden pertama RI, juga telah terlebih dahulu diasingkan ke Kabupaten Bangka Barat tepatnya di Pesanggerahan Menumbing yang berada tidak jauh dari Kota Muntok. Pada masa pengasingan inilah banyak terjadi perundingan-perundingan yang dilakukan pemimpin-pemimpin negara tersebut untuk melepaskan Indonesia dari belenggu bangsa Belanda. Kuatnya cerita sejarah di Kota Muntok juga didukung dengan banyaknya tempat-tempat bersejarah lain yang ada disana, seperti Museum Timah Muntok, Rumah Mayor China, dan banyak rumah-rumah  lainnya dengan gaya arsitektural bangunan Belanda  namun masih cukup terawat. Karena sejarahnya dan tampilan arsitektural kotanya tersebutlah, Muntok sering disebut sebagai Kota Tua Muntok.

Pasanggrahan Muntok (Wisma Ranggam). Foto: FIthria Khairina Damanik

Homestay Sudirman. Foto: Fithria Khairina Damanik

Di balik sejarahnya, Kota Muntok ternyata juga memiliki satu lagi keunikan lain, kota ini juga dikenal sebagai “Kota Seribu Kue”. Tentu memang belum teridentifikasi 1000 kue itu, tetapi disebut demikian karena banyaknya jenis kue yang bisa ditemukan di Kota Muntok. Kue-kue ini tidak hanya bisa ditemukan di stand sekitar pasar, tetapi juga bisa langsung dilihat di rumah produksinya. Karena banyaknya, kota ini pun meraih gelar #1 MURI sebagai kota dengan jenis kue terbanyak” di tahun 2010. Salah satu keunikan dari kue-kue yang ada di Muntok adalah beberapa kue juga bisa dikaitkan dengan masa sejarah. Salah satunya adalah kue pelite, kue ini merupakan kue favorit Presiden Soekarno ketika diasingkan di Muntok. Rasanya manis dan nikmat, bercampur dengan aroma daun pisang yang membalut kue tersebut. Kue ini menjadi salah satu kue yang paling dicari di Kota Muntok.

Kue Muntok, Foto: https://lifestyle.sindonews.com/read/1446075/185/penganan-pelite-kue-favorit-soekarno-di-pengasingan-muntok-1570337387

 

Salah satu stand penjual kue di Kota Muntok. Foto: Fithria Khairina Damanik

Dari sedikit cerita tentang Kota Muntok di atas, dapat kita simpulkan Kota Muntok mampu mengaitkan 2 citra kota yang cukup kuat, Kota Tua dan Kota Seribu Kue. Citra kota ini tidak hanya disebutkan, tetapi dapat dirasakan langsung oleh wisatawan yang datang berkunjung, melalui bangunan-bangunan bersejarah yang masih terawat serta banyaknya penjual kue yang dapat kita temukan di sudut-sudut kota. Hal ini biasa dikenal dengan istilah Destination Branding. Destination Branding dapat diartikan sebagai berikut “set of perceptions about a place as reflected by the associations held in tourist memory” (Cai dalam Pereira et.al, 2012). Destination branding tidak hanya penting sebagai identitas suatu destinasi, tetapi lebih jauh lagi juga dapat mengarahkan pembangunan destinasi tersebut, sebagaimana yang terjadi di Kota Muntok.