Binus Tourism Creative Talk with Atourin “How to Create a Virtual Tour”

Virtual Tour merupakan simulasi lokasi yang ada di dunia dengan memanfaatkan teknologi digital media sebagai perantaranya. Dimasa pandemi ini, nama virtual tour semakin dikenal masyarakat luas dan dijadikan sebuah peluang baru bagi industri pariwisata agar bisa tetap berjalan. Walau tidak dapat sepenuhnya menggantikan pengalaman nyata dari berwisata langsung ke destinasi wisata, virtual tour ini dapat sedikit mengobati rasa rindu masyarakat untuk dapat berwisata menjelajahi destinasi pariwisata dan dapat dilakukan dengan mudah oleh siapapun. Virtual tour ini merupakan peluang baru bagi para personal yang bekerja di dalam industri pariwisata tanpa harus melanggar protokol kesehatan yanng ada di masa pandemi ini.

Virtual tour ini telah menjadi bagian dari industri pariwisata yang penting untuk diketahui dan dipelajari masyarakat luas, terutama mahasiswa jurusan pariwisata yang akan menjadi pelaku di industri pariwisata. Berhubung dengan Mahasiswa Binus Tourism yang diberikan tugas membuat virtual tour, maka pada hari kamis tanggal 6 May 2021 pukul 11.20 – 13.20 WIB, Binus Tourism membuka kelas kolaborasi dengan Bapak Benarivo Putra selaku CEO muda dari perusahaan virtual tour Atourin dan Ibu Hana Ullinuha sebagai moderator melalui aplikasi zoom. Bapak Benarivo Putra merupakan lulusan teknik informasi dari Universitas Padjadjaran dan Ibu Hana Ulinnuha selaku fm Binus Tourism, merupakan lulusan bidang studi pariwisata dan lingkungan dari Universitas Wageningen, Belanda. Kelas kolaborasi ini berlangsung selama dua jam dan dihadiri oleh Mahasiswa Pariwisata Binus angkatan 23 dan terbuka untuk umum. Bagi Mahasiswa Binus, dengan menghadiri kelas ini mahasiswa tidak hanya menambah wawasan mengenai virtual tour tetapi juga mendapatkan poin SAT dari Binus.

Kelas ini mengangkat tema yang berjudul “Create a Journey with a Virtual Tour” dimana selama dua jam kelas berlangsung, Bapak Benarivo Putra turut aktif dalam mengajarkan peserta langkah-langkah dalam membuat virtual tour. Dimulai dari perkenalan singkat mengenai sejarah berdirinya Atourin dari Bapak Benarivo Putra, ia berkata pada awalnya ia merasa di Indonesia itu sulit untuk mendapatkan informasi objek wisata maupun rekomendasi wisata yang sesuai. Hal tersebutlah yang membuatnya berpikir untuk mendirikan platform informasi itu sendiri dengan kemampuan teknik informasi yang dimlikinya. Ia juga memaparkan dimana perusahaan startup yang berbasis teknologi ini tidak memerlukan banyak modal untuk memulainya.

Setelah itu, kelas dilanjutkan dengan mengenalkan apa itu virtual tour dan penjelasan detil mengenai persiapan hingga eksekusi virtual tour. Sesi pertama adalah aspek teknis dari virtual tour dan sesi kedua adalah aspek non teknis dari virtual tour. Untuk aspek teknis itu membahas mengenai bagaimana menyelenggarakan dan menyampaikannya sedangkan non teknis lebih mengarah pada persiapan pemasaran, penetapan harga dan pengemasannya. Ia juga memaparkan tiga tahap pelaksanaan virtual tour mulai dari persiapan, pemasaran hingga pelaksanaan dan evaluasi. Untuk persiapan tema terdapat dua tema yaitu, general virtual traveling yang ruang lingkup bahasannya luas dan thematic virtual traveling yang ruang lingkup bahasannya lebih spesifik. Kemudian untuk platform virtual tour biasanya Atourin mengunakan platform webinar digital, live report, fully tapped video dan gabungan keduanya dengan mengunakan sumber konten dari google street view dan google maps.

Pada tahap ini, Bapak Benarivo Putra mulai menjelaskan dan memandu langsung peserta mengenai bagaimana peserta harus mengambil sumber konten untuk virtual tour dari google street view dan google maps. Kelas tersebut berjalan dengan sangat interaktif, dimana pembicara membiarkan peserta untuk memilih destinasi sebagai contoh untuk dibuat menjadi virtual tour. Ia juga memaparkan bagaimana virtual tour ini dapat digunakan dalam acara-acara besar seperti konferensi agar tidak terlihat monoton. Untuk sesi non teknis Bapak benarivo mengajarkan apa saja persiapan yang dibutuhkan dalam virtual tour serta pro kontra dari setiap penggunaan platform Atourin yang berbeda. Pada sesi kedua ini, ia juga memaparkan bagaimana tahap dalam formula penetapan harga dan pemasaran virtual tour melalui berbagai channel dengan mengunakan poster, caption dan konten lainya.

Setelah pembicara selesai memaparkan seluruh bahan pembelajaranya, sesi tanya jawab dimulai oleh Ibu Hana Ullinuha selaku moderator  dalam kelas ini. Muncul pertanyaan yang menarik dari seorang Mahasiswa Binus Tourism dimana ia bertanya “sebagai pemula, metode penyampain mana yang paling sesuai dan menarik serta tips dan trik yang bisa diberikan untuk pemula? ” yang kemudian dijawab oleh Bapak Benarivo bahwa webinar merupakan metode yang paling simpel dan sesuai untuk mahasiswa atau pemula dilanjutkan dengan beberapa tips untuk pemula seperti mengadakan kuis dalam virtual tournya dan bagaimana mengatasi isu yang biasanya muncul. Lalu kelas yang dihadiri 33 peserta ini diakhiri dengan foto bersama dan penutupan yang dipimpin oleh moderator. Dengan adanya kelas ini, diharapkan bagi seluruh peserta dapat lebih memahami dan mengerti apa itu virtual tour dan bagaimana cara pembuatannya terutama di era pandemi ini.

Jesisca