Memperkenalkan Jejak “Cultural Heritage” di Palembang

Artikel ini ditulis oleh mahasiswa / Binusian 2025 Destinasi Pariwisata Semester Satu (Tahun Perkuliahan 2021/2022) untuk mata kuliah Indonesian Culture, History, and Heritage: Alpius Bawi, Mutiara Rahma Handini, dan Cherline, dan di-edit oleh dosen mata kuliah bersangkutan, Teguh Amor Patria. Artikel dibuat sebagai tugas untuk mata kuliah terkait dan tidak bersifat komersial.

Kota Palembang adalah ibu kota Propinsi Sumatera Selatan dan kota terbesar kedua di Sumatera setelah Kota Medan. Kota Palembang juga merupakan kota tertua di Indonesia, berumur setidaknya 1337 tahun apabila mengacu pada usia prasasti Sriwijaya. Sebagai kota tertua, tidak heran apabila terdapat banyak peninggalan sejarah dan bangunan kuno di dalam kota ini. Kelompok kami memilih tema “cultural heritage” di Kota Palembang karena kami ingin mengenalkan wisata budaya dan sejarah kepada wisatawan.

Tujuan wisata pertama adalah Jembatan Ampera, yang menghubungkan sisi Ilir dan Ulu, dan dibangun pada tahun 1962. Keunikan jembatan ini pada masa lampau yaitu dapat menaikturunkan bagian tengah jembatan untuk mempermudah lewatnya transportasi kapal pengangkut barang ukuran besar. Akan tetapi sejak tahun 1970, aktivitas jembatan sudah dihentikan karena waktu yang digunakan untuk mengangkat jembatan terlalu lama dan menggangu arus lalu lintas.

Jembatan Ampera (Sumber : https://images.app.goo.gl/Du77TdFP73n9DH1i8)

Selanjutnya adalah Masjid Agung Palembang, yang merupakan salah satu peninggalan Kesultanan Palembang. Masjid ini dibangun dari tahun 1738 hingga 1748 dan diresmikan pada 26 Mei 1748. Keunikan arsitektur masjid ini adalah mendapat pengaruh dari berbagai gaya arsitektur khas Melayu Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, hingga arsitektur Eropa yang dapat dilihat pada pintu masuk gedung baru masjid. Selain itu terdapat arsitektur China di bagian masjid utama yang beratap seperti kelenteng. Masjid Agung merupakan masjid tua yang sangat penting dalam sejarah Kota Palembang.

Terakhir yaitu Museum Balaputera Dewa, yang menyimpan berbagai koleksi dari jaman pra-sejarah, jaman Kerajaan Sriwijaya, jaman Kesultanan Palembang, hingga jaman kolonialisme Belanda. Pembangunan museum dimulai pada tahun 1978 sampai 1984, dan diresmikan pada 5 November 1984. Nama Balaputra Dewa berasal dari nama raja Sriwijaya yang memerintah pada abad ke-9 Masehi. Selain itu, di dalam museum terdapat Rumah Adat Limas yang bisa dijadikan lokasi swafoto karena ada memiliki koleksi mata uang Indonesia pecahan 10.000 Rupiah.

Calon segmen wisatawan “cultural heritage” di Kota Palembang adalah wisatawan dari luar Pulau Sumatera, masyarakat lokal yang belum pernah berkunjung ke tempat-tempat tersebut, dan juga pelajar yang ingin melakukan wisata rekreatif untuk menambah wawasan pengetahuan, budaya, dan sejarah wisata.

Terkait citra Kota Palembang sebagai destinasi wisata, menurut salah satu kelompok kami, yaitu Cherline saat berkunjung ke Jembatan Ampera, kondisi jembatan sekarang masih terlihat sangat bagus, megah, dan kokoh walaupun sudah lama dibangun. Jembatan ini masih sangat sering dikunjungi wisatawan dan ramai digunakan oleh warga Kota Palembang. Jembatan Ampera memiliki trotoar bagi pejalan kaki dan pagar pembatas agar pengendara motor tidak menerabas ke trotoar tersebut. Selain itu, Jembatan Ampera juga difasilitasi jam analog, CCTV, lampu jalan, tempat sampah, dan kursi.

Di bawah jembatan terdapat Sungai Musi yang biasa digunakan penduduk lokal untuk melakukan aktivitas memancing sambil menyantap ikan segar hasil tangkapan. Di bawah jembatan ini juga terdapat tempat menyewa kapal apabila kita ingin menyeberang ke Pulau Kemaro. Di bawah Jembatan Ampera juga terdapat pasar dan banyak pedagang yang menjual makanan dan minuman. Saat malam hari, pemandangan Jembatan Ampera terlihat bagus karena banyak lampu di sekelilingnya sehingga terlihat warna-warni dari kejauhan.  Untuk pergi ke Jembatan Ampera, kita tidak perlu membayar karena Jembatan ini terletak di tengah Kota Palembang. Kita bisa menggunakan kendaraan pribadi ataupun umum, seperti naik LRT dan bus kota (Transmusi).

Jembatan Ampera memiliki berbagai cerita misteri di kalangan masyarakat setempat, seperti misteri penampakan sosok misterius, misteri siluman antara manusia dan siamang, misteri lendir di tangga rumah warga sekitar, misteri terpelesetnya pendatang baru, misteri kematian misterius, penampakan buaya aneh, dan penampakan ular. Salah satu misteri yang menggemparkan saat ini adalah munculnya wujud Hantu Banyu. Diberi nama Hantu Banyu karena mahluk halus ini timbul dari permukaan air, atau dalam bahasa lokal yaitu ‘banyu’. Masyarakat sekitar menafsirkan hantu banyu sebagai wujud manusia separuh siamang. Hantu ini biasanya mencari calon korban yang tengah memancing serta berenang dengan cara menerkamnya di dalam air. Adanya mitos di Jembatan Ampera  ini membuat masyarakat yang berkunjung ke sana memilih untuk berjaga-jaga saat bermain di pinggir Sungai Musi. Saat Adzan Magrib, para pemancing yang tengah melaksanakan aktivitasnya dianjurkan untuk menyudahi aktivitas mereka saat  merasa kail pancingnya menyangkut.

Citra desinasi kedua yaitu Masjid Agung Palembang. Masjid ini sudah lama dibangun dan masih terlihat bagus, kokoh, dan dirawat dengan baik. Pada Bulan Ramadhan di tahun 2020 dilaksanakan shalat tarawih bersama di Masjid Agung ini dan banyak warga yang antusias melaksanakan shalat bersama dengan mematuhi protokol kesehatan di kondisi pandemi ini. Masjid ini sangat asri dengan adanya pohon-pohon yang rindang dan tempat parkir yang luas. Daerah di sekitar masjid dijaga kebersihannya dengan baik. Masjid ini menyediakan fasilitas seperti toilet dan tempat wudhu. Di sekitar Masjid ini terdapat banyak penjual makanan serta minuman. Masjid Agung terletak di tengah Kota Palembang sehingga tidak sulit untuk dikunjungi.

Masjid Agung Palembang (Sumber : https://images.app.goo.gl/xpH6Bbe7DHLtCor97)

Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) I Jayo Wikramo, atau biasa disebut Masjid Agung Palembang, adalah masjid paling besar di Kota Palembang. Awalnya masjid ini bernama Masjid Sultan dan belum memiliki menara. Bentuk masjid hampir bujursangkar, memiliki ukuran 30 meter x 36 meter. Masjid ini memiliki menara yang didirikan pada tahun 1753 M. Gaya khas arsitektur masjid ini adalah pola struktur bangunan utama berundak tiga dengan puncaknya berbentuk limas. Atap bertingkat yang menjadi puncak masjid memiliki ukiran bunga tropis. Lokasi menara masjid terpisah dari bangunan utama dan berada di bagian barat. Pola menara masjid berbentuk segi enam setinggi 20 meter. Rupa menara masjid menyerupai menara kelenteng. Bentuk atap menara melengkung pada bagian ujung, dan beratap genteng. Menara masjid juga memiliki teras berpagar yang mengelilingi bangunan menara.

Citra destinasi ketiga yaitu Museum Balaputra Dewa. Selama Pandemi Covid-19, museum ini dibuka kembali dengan batasan pengunjung saat memasuki museum. Selain itu, pengunjung juga tetap harus mematuhi protokol kesehatan. Untuk masuk ke museum ini dikenakan biaya Rp.1000 untuk anak-anak dan Rp.2000 untuk dewasa. Kebersihan museum ini sangat dijaga. Museum Balaputra Dewa memiliki fasilitas penyejuk udara dan terdapat tempat duduk untuk wisatawan.

Museum Balaputra Dewa (Sumber : https://images.app.goo.gl/rTwJEYfbuSJwyBAd9)

Museum Balaputra Dewa Palembang memamerkan koleksi peninggalan Sriwijaya. Benda peninggalan sejarah yang dipamerkan mencakup prasasti, artefak, kemudi kapal dan perahu lesung, menurut Kepala Museum Balaputra Dewa Palembang, Chandra Amprayadi, di Palembang.  Koleksi benda peninggalan sejarah zaman Sriwijaya dan Kesultanan Palembang Darussalam dapat dilihat pengunjung di ruangan pamer II yang disiapkan khusus untuk menyimpan koleksi benda sejarah kedua jaman tersebut. Beliau menjelaskan bahwa satu koleksi terbaru yang dipamerkan di ruang pamer II, yaitu kemudi kapal yang terbuat dari kayu, telah diteliti oleh pihak balai arkeologi dan diperkirakan berasal dari kapal tradisi Asia atau peninggalan zaman Kerajaan Sriwijaya yang berkembang pada abad I-XIII Masehi.  “Kemudi kapal tersebut merupakan hibah dari masyarakat pada Agustus 2020. Kemudi kapal yang terbuat dari kayu ulin itu beratnya sekitar empat ton dengan panjang 7,8 meter lebar 50 cm ditemukan di Sungai Musi kawasan Keramasan, Kertapati Palembang pada tahun 2016,” ujar Pak Chandra.

Di dalam museum terdapat banyak peninggalan sejarah seperti arca, prasasti, ukiran, senjata, pakaian adat, dan rumah tradisional Sumatera Selatan, yaitu Rumah Limas. Sayangnya, beberapa peninggalan sejarah yang ada di museum ini ada yang patah dan kehilangan beberapa bagiannya. Selain itu juga terdapat peninggalan Melaka di Museum ini. Terkadang Museum ini juga mengadakan pameran bertema yang hanya bisa dilihat saat hari-hari bersejarah. Mayoritas pengunjung yang mengunjungi Museum Balaputra Dewa adalah mahasiswa dan siswa sekolah yang melakukan penelitian dan edukasi.